Thursday, May 2, 2013

Menguak Sebab Laki-laki Melakukan KDRT



Oleh: Sri Yulita Pramulia Panani

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) adalah bahasan yang paling populer sampai hari ini. Isu KDRT semakin naik ke permukaan ketika media pun tidak ketinggalan memberi sorotan pada korban dan pelakunya. KDRT bisa terjadi pada siapapun tidak memandang profesi, jabatan, usia, siapapun bisa mengalami tindak kekerasan ini. Walaupun, UU tentang KDRT sudah ada yaitu UU no 23 tahun 2004, berbagai bentuk kampanye dan sosialisasi anti KDRT dilakukan, tetapi tetap saja angkanya tidak mengalami penurunan justru makin bertambah.



Bertambahnya jumlah tindak kekerasan dalam rumah tangga yang terungkap, menandakan bahwa perempuan semakin sadar mengenai kekerasan dalam rumah tangga. Kemungkinan angkanya akan bertambah karena masih banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga yang masih belum terungkap karena tidak semua korbannya mau melaporkan tindak kekerasan yang dialami pada pihak yang berwenang.

Dalam kasus KDRT perempuan lebih rentan menjadi korban dan mayoritas pelaku dalam KDRT adalah laki-laki/suami. Walaupun, dalam beberapa kasus ditemukan juga bahwa perempuan menjadi pelaku dalam KDRT. Akan tetapi, apabila dilihat dari penyebab kekerasan itu terjadi secara garis besar faktornya hampir sama. Selain itu, dalam prakteknya kekerasan dilakukan dalam berbagai bentuk tidak hanya sekali tapi berulang-ulang sebelum akhirnya korban melaporkan kekerasan yang ia alami. Menariknya, hampir semua pelaku kekerasan mempunyai karateristik yang hampir sama di setiap kasus KDRT yang terjadi.

Pelaku juga korban

Pelaku KDRT sendiri sebenarnya adalah korban. Korban yang masa kecilnya tumbuh dalam keluarga yang terbiasa dengan kekerasan. Faktor pendidikan juga berpengaruh dalam pembentukan perilaku pelaku KDRT. Dalam hal ini bukan pendidikan formal yang dimaksud tetapi pendidikan yang diberikan oleh orang tua. Karena masih banyak orang tua yang mendidik anak dengan mitos-mitos dan pendidikan yang kurang tepat. Jadi bisa diasumsikan kekerasan disebabkan oleh pendidikan perilaku yang rendah dalam keluarga yang bermasalah. Pola didik itu akan mempengaruhi perilaku anak hingga dewasa. Misalnya ayahnya sering melakukan kekerasan pada ibunya di depannya langsung. Atau pola asuh dalam keluarga cenderung disiplin bernuansa kekerasan, menindas, memaksa dan lainnya. Sehingga anak tersebut mengambil pola yang sama seperti apa yang ia lihat setiap harinya, dan berubah menjadi kebiasaan yang terbawa hingga masa dewasanya dan menerapkannya dalam kehidupan keluarganya kelak.

Pola copying yang dilakukan setiap pelaku berbeda ada yang mengkopi cara orang tua menyelesaikan masalah, misalnya melampiaskan pada minum minuman beralkohol, narkoba dan perilaku negatif lainya, sehingga justru tidak menyelesaikan masalah malah menambah masalah. Perilaku lainnya adalah perilaku tidak bertanggung jawab dan berbuat semaunya, tanpa pikir panjang, dan kemudian dengan mudah menggunakan kekuatan fisik apalagi jika pelaku memiliki posisi sosial akan dengan mudah menekan pasangan dan keluarga. Sebaliknya ada juga pelaku yang semula seorang yang baik-baik saja namun karena himpitan dan mengalami tekanan yang berat sehingga ia hilang kendali. Penyebabnya seperti himpitan ekonomi ataupun kehilangan pekerjaan.

Tidak semua laki-laki

Dari segi kepribadian Saparinah Sadli dalam tulisan karya Muhammad Fahmul Iltiham Kekerasan Terhadap Perempuan Dalam Rumah Tangga Sebagai Pelanggaran Hak Azazi Manusia ada lima kepribadian dalam menentukan tipologi dalam KDRT. Pertama, tipe suami yang cemburu dan posesif serta bergantung. Kedua, suami agresif dan setiap bertengkar selalu diselesaikan dengan kekerasan. Ketiga, suami lebih dominan dan tidak menyukai apabila istri terlihat indipenden, mandiri, karena dianggap tidak menghormati suami, makanya kekerasan pun dengan mudah terjadi. Keempat, suami yang dependen dan pasif menerima apa saja yang dilakukan istri, suatu saat bisa berubah dengan tidak kekerasan pada istri. Kelima, hubungan antara suami istri baik-baik saja namun tiba-tiba suami melakukan kekerasan karena faktor depresi. selain itu didukung juga dengan budaya patriakhi, bahwa dalam rumah tangga suami mendapat posisi yang tinggi dalam keluarga. Ia merasa berhak untuk melakukan apa saja, termasuk hilang kontrol melakukan kekerasan baik fisik maupun emosional. Ketika ia sadar ia akan minta maaf menghibah-hibah pada istri. Sifat temperamental ini akan berulang terus menerus.

Uraian tersebut sedikit gambaran mengapa laki-laki melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap pasangannya. Memang tidak semua laki-laki melakukan KDRT, dan tidak semua KDRT faktor pemicunya sama namun bersifat variatif. Banyak hal yang menjadi sebab mengapa kekerasan dalam rumah tangga terjadi. Pandangan dan pola pikir yang merendahkan keberadaan perempuan dalam sebuah keluarga juga bisa menjadi sebab KDRT terjadi. Penting adanya perubahan pola didik dalam keluarga. Selain itu, bagi para pelaku kekerasan, penting untuk melakukan konseling psikologi demi perubahan perilaku yang lebih baik yang lebih menghargai pasangan. Karena pidana bukanlah satu-satu penyembuh bagi pelaku kekerasan.

Sumber: http://rifkaanisa.blogdetik.com